Rabu, 09 November 2011

jekardah

Selalu rindu akan kota jakarta atau kata anak muda jaman sekarang jekardah dan hiruk pikuknya, dibesarkan di ibu kota yang penuh dengan penduduk dan dipenuhi juga jiwa muda yang ingin menunjukan kreatifitasnya. sekaranng saya terjebak di satu kota yang kejakartaannya dipengaruhi oleh namanya JAKARTA
Waktu kecil, bayangan saya tentang Jakarta adalah kota kecil yang asri, banyak sawah, bangunan bersejarah dan penduduk yang ramah. Entahlah...mungkin karena terpengaruh sama lagunya Tri kwek-Kwek 'katanya, katanya...'. Bisa dibilang dari masih orok sampai usia 17 tahun saya tercemar sama polusi ibu kota, Jakarta, makanya pas liat sawah seperti melihat hamparan beras. Di Jakarta lebih banyak gedung menjulang, di kota (dulu) banyak bangunan tua, yang saya pikir rumah hantu seperti yang ada di perumahan Pondok Indah.
Lulus SMA saya sekeluarga pindah ke kota tersebut. Apa rasanya? Butek! Saya mikirnya yang biasa apa aja ada di Jakarta kudu pindah ke Jakarta yang...dalam pikiran saya masih kota kecil, masih desa, katanya kota pelajar, intinya saya ogah pisah dari lingkungan yang udah membuat saya nyaman. Yang udah berjasa membuat saya menjadi korban anak SMA labil yang mencoba gaul.
Tapi saat saya ke Jakarta yang membuat saya kecewa justru sebaliknya. Empat tahun saya di kota ini saya malah menyaksikan Jakarta menjadi 'kota besar wannabe'. Parahnya, saya menjejakkan kaki di Jakarta saya menjadi tahu berapa banyak peninggalan sejarah yang dihancurkan demi didirikannya Mall, tempat hiburan atau apapun itu yang membuat kita menjadi ga to the hul to the la to the bil.
Rasanya banyak slogan-slogan yang udah nggak pas disandang sama kota Jakarta. Dari kota metropolitan yang kini menjadi kota 'metromini', sok-sokan dengan slogan 'Jakarta kota bunga' padahal lebih pantas disebut sebagai 'kota ruko' atau 'kota beton'. kalian tahu gimana kerennya ketika Jakarta yang dikenal dengan tanah gembur yang cocok untuk bercocok tanam dibangun gedung bertingkat lebih dari tiga lantai? Mari kita tunggu keamblesan tanahnya. Atau apartement di pinggir kali, bersebelahan dengan perkampungan agak kumuh, kalinya suka dibuat mandi, cuci piring bahkan buang air? Pemandangan langka? Atau sekolah yang dibangun di belokan pinggir jalan? Kantor pos tua yang rencananya dibangun Mall? Pasar tradisional yang mau dibangun mall? Sekolah yang tiba-tiba saya lihat sudah dihancurkan dan entah mau dijadikan bangunan gaul apalagi, lalu Universitas yang sudah seperti candi Borobudur, sawah-sawah yang dijadikan perumahan, dan lain-lain...
Kadang saya bingung, kalau saja tidak ada festival Jakarta Tempoe Doeloe, itu turis ngapain pada ke Jakarta? Ke Splendid? Mending ke Kebun Binatang. Ke Museum? Yang bahkan perawatannya tidak seapik museum di kota mereka. Ke Toko Es krim Oen? Cuma buat liat kartu pos? Ke jalan Ijen? Cuma buat liat rumah-rumah tua yang sekarang makin banyak dirombak jadi rumah keren mentereng.
Mungkin one day kita akan menjadi saksi Jakarta menjadi, 'Kota kece gahul bin galau'.